Fatmamaya's Blog

menggores dengan akal dan hati

Mengapa kita tidak yakin Alloh akan menolong kita?

Mengapa kita tidak yakin bahwa Alloh akan menolong kita? Pernah nggak kita memikirkan tentang hal itu frens? Mungkin jarang ya, yang lebih sering muncul dalam pikiran kita ketika ada yang menasihati kita untuk sabar dalam menghadapi masalah, meyakinkan kita bahwa setiap kesulitan akan disertai pertolongan, dan sebagainya itu, justru adalah keraguan, apakah iya seperti itu? Apa iya aku akan keluar dari ujian ini? Apa iya Alloh mau nolong aku? Kapan ya aku bisa keluar dari semua ini? Semua yang kita pikirkan itu seolah-olah mencerminkan bahwa sedikitpun hati kita tidak tersentuh dengan janji Alloh, bahwa sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.

Kalau kita mau menelusur jauh kedalam hati kita, sebenarnya kita akan mendapatkan jawaban atas keraguan kita akan datangnya pertolongan Alloh untuk kita. Keraguan akan datangnya pertolongan Alloh itu bukan semata-mata karena tidak percayanya kita terhadap janji Alloh, tapi lebih kepada kesadaran terdalam dari diri kita bahwa kita masih sering mendurhakainya, sehingga secara otomatis terbentuklah alur pemikiran bahwa mana mungkin Alloh mau menolong orang seperti saya, saya kan masih belum maksimal menjalankan perintahnya,, belum maksimal meninggalkan hal-hal yang dibenci-Nya, apa iya Alloh orang seperti saya termasuk kedalam orang-orang yang dijanjikan pertolongan-Nya?

Logis dan sangat sesuai dengan fitrah kita jika terbentuk alur pemikiran seperti itu, dan itu sekaligus membenarkan firman Alloh dalam surat Ath Thalaq ayat 2-3 : “… barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”. Maha Besar Alloh yang telah menciptakan isi Al Quran sejalan dengan fitrah manusia, karena memang al Quran itu diturunkan sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia dalam hidupnya. Secara fitrah kita ‘menyetujui’ bahwa Alloh akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan jika kita mentaati-Nya, bertakwa kepada-Nya dalam bahasa ayat ini.

Maka semoga Alloh selalu menjaga kita agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang mendurhakai-Nya dan menuntun kita untuk mengikuti petunjuk-Nya, sehingga dengannya yakinlah kita akan datangnya pertolongan Alloh kepada kita, dan menjadi tenanglah hati kita menjalani kehidupan ini, sebesar apapun badai ujian yang kita hadapi. Amin.

Advertisements

May 14, 2010 Posted by | seperti daun jatuh tertiup angin, kecil namun penuh makna | Leave a comment

March 12, 2010 Posted by | 1 | Leave a comment

TETANUS (diterjemahkan oleh dr. Hajar Fatma Sari dari Harrison’s Principles of Internal Medicine 17th Edition)

DEFINISI
Tetanus adalah sebuah kelainan neurologis, yang ditandai dengan peningkatan tonus otot dan spasme, yang disebabkan oleh tetanospasmin, sebuah toksin protein kuat yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Tetanus terjadi dalam beberapa bentuk klinis, yang meliputi penyakit general, neonatal, dan lokal.

AGEN ETIOLOGIS
C. tetani adalah sebuah batang anaerob, motil, gram positif yang berbentuk oval, tak berwarna, spora terminal dan karenanya mengasumsikan sebuah bentuk seperti raket tenis atau pemukul drum. Organisme ini ditemukan diseluruh dunia dalam tanah, benda mati, feses binatang, dan kadang-kadang dalam feses manusia. Spora bisa bertahan selama bertahun-tahun dalam beberapa lingkungan dan resisten terhadap berbagai desinfektan dan pendidihan selama 20 menit. Sel-sel vegetatif, namun demikian, mudah diinaktivasikan dan rentan terhadap beberapa antibiotik, termasuk metronidazol dan penisilin. Tetanospasmin dibentuk dalam sel-sel vagetatif dibawah kontrol plasmid. Dengan autolisis, toksin rantai tunggal ini dilepaskan dan dipecah untuk membentuk heterodimer yang berisi sebuah rantai berat(100 kDa), yang memediasi pengikatan dan masuknya kedalam sel saraf, dan rantai ringan (50 kDa), yang memblokade pelepasan neurotransmiter. Genom C. tetani telah ditetapkan. Struktur asam amino dari dua toksin yang paling kuat yang telah dikenal, toksin botulinum dan toksin tetanus, sebagian homolog.

EPIDEMIOLOGI
Tetanus terjadi secara sporadis dan hampir selalu mengenai orang yang tidak imun; orang yang memiliki imunitas parsial dan individu yang imun secara penuh yang gagal mempertahankan imunitas adekuat dengan dosis vaksin ulangan juga bisa terkontaminasi. Meskipun tetanus secara keseluruhan bisa dicegah dengan imunisasi, beban penyakit di dunia cukup besar. Tetanus adalah sebuah penyakit yang penting di banyak negara, tetapi pelaporan diketahui tidak akurat dan tidak lengkap, terutama pada negara-negara berkembang. Sebagai hasilnya, WHO mempertimbangkan jumlah kasus yang dilaporkan masih dibawah angka yang sesungguhnya dan secara periodis melakukan perkiraan kasus/kematian untuk menilai beban penyakit. Pada tahun 2002 (tahun terakhir yang tersedia datanya), jumlah perkiraan kematian yang berhubungan dengan tetanus pada semua kelompok adalah 213.000, dimana 180.000 (85%) adalah tetanus neonatal. Sebaliknya, hanya 18.781 total kasus dan 11.762 kasus neonatal yang benar-benar dilaporkan pada tahun itu. Tetanus sering terjadi dalam wilayah tanah pertanian, di area rural, dalam iklim yang hangat, selama bulan-bulan musiam panas, dan pada laki-laki. Pada negara-negara tanpa sebuah program imunisasi yang komprehensif, tetanus terutama terjadi pada neonatus dan anak kecil yang lain. Penting diperhatikan bahwa program internasional untuk menghilangkan tetanus neonatus telah dilakukan selama beberapa kali. Di AS dan Negara-negara lain dengan program imuninasi yang sukses, tetanus neonates jarang (hanya tiga kasus yang dilaporkan di AS selama 1990-2004), dan penyakit ini mengenai kelompok usia yang lain (Gbr. 133-1) dan kelompok yang tidak secara sempurna tertutup oleh imunisasi (seperti kelompok selain kulit putih). Imunisasi yang berhasil di AS digambarkan pada gambar 133-2. Sejak 1976, hanya kurang dari 100 kasus yang dilaporkan setiap tahunnya. Saat ini, risiko tetanus di Negara ini paling tinggi ada pada kelompok orang tua. Survey serologis nasional skala luas yang dilakukan pada tahun 1988-1994 menunjukkan bahwa 72% orang Amerika yang berusia ≥6 tahun memiliki kada antibody protektif. Sebaliknya, hanya 30% dari orang-orang >70 tahun yang terlindungi.

Pengaruh imunisasi tetanus di AS, 1947–2005 (2005, provisional total). Vaksin tetanus menjadi bagian imunisasi anak rutin pada akhir 1940-an. (Dari Centers for Disease Control and Prevention, National Immunization Program. Tetanus and Tetanus Toxoid: Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases. www.cdc.gov/nip/ed/vpd2006/Slides/chap06-tetanus9.ppt. Revised January 2006. Accessed 1/30/2007.)

Di AS, sebagian besar kasus tetanus mengikuti cidera akut (luka tusuk, laserasi, abrasi atau trauma lain). Tetanus bisa didapatkan di dalam ruangan atau selama aktivitas di luar ruangan (misalnya bertai dan berkebun). Luka yang terinfeksi mungkin saja besar atau bisa juga terlihat sepele sehingga terabaikan saat pemeriksaan medis. Dalam beberapa kasus, tidak ada cidera atau pintu masuk yang bisa dicurigai. Penyakit ini bisa memberikan komplikasi pada kondisi-kondisi kronik seperti ulkus kulit, abses, dan gangren. Tetanus juga dikaitkan dengan luka bakar, frostbite, infeksi telinga tengah, pembedahan, aborsi, kelahiran anak, tindik badan, dan penyalahgunaan obat (terutama “skin popping”). Tetanus berulang pernah dilaporkan.

PATOGENESIS
Kontaminasi luka oleh spora C. tetani mungkin sering terjadi. Germinasi dan produksi toksin, namun demikian, hanya terjadi pada luka yang memiliki potensi oksidasi-reduksi yang rendah seperti jaringan-jaringan yang terdevitalisasi, benda asing, atau infeksi aktif. C. tetani tidak dengan sendirinya mencetuskan inflamasi, dan pintu masuk masih terlihat jinak kecuali terdapat koinfeksi dengan organism lain. Toksin yang dilepaskan dalam luka terikat dengan terminal neuron motor terminal, memasuki akson, dan ditransportasikan kedalam badan sel saraf dalam batang otak dan korda spinal dengan transport intraneurolan retrograde. Toksin kemudian bermigrasi di sepanjang sinaps ke terminal presinaptik, yang akan memblokade pelepasan neurotransmitter inhibitor glisin dan GABA dari vesikel (lihat Gambar 134-1). Blokade pelepasan neurotransmitter oleh tetanospasmin, sebuah zinc metalloprotease, melibatkan pembelahan synaptobrevin, sebuah protein yang penting untuk fungsi normal alat-alat pelepasan vesikel sinaptik. Dengan inhibisi yang dibatasi, tingkat pengapian istirahat neuron motorik α meningkat, menghasilkan kekakuan. Dengan pengurangan aktivitas refleks yang mematasi penyebaran impuls polisinaptik (aktivitas glikinergik), agonis dan antagonis mungkin akan dilibatkan, bukan dihambat, yang menyebabkan terjadinya spasme. Toksin bisa juga mengenai neuron simpatetik preganglion di lateral gray matter korda spinal dan pusat parasimpatetik. Kehilangan inhibisi neuron simpatetik preganglion bisa menghasilkan hiperaktivitas simpatetik dan kadar katekolamin sirkulasi yang tinggi. Tetanospasmin, seperti toksin botulinum, bisa memblokase pelepasan neurotransmitter di neuromuscular junction dan menghasilkan kelemahan atau paralisis, tetapi efek ini secara klinis hanya terjadi pada tetanus sefalik. Pemulihan memerlukan tumbuh kembalinya terminal saraf yang baru. Pada tetanus lokal, hanya saraf yang memberi masukan pada otot yang terlibat. Tetanus generalisata terjadi jika toksin yang dilepaskan kedalam luka memasuki aliran limfa dan darah dan menyebar secara luas kedalam terminal saraf yang jauh; sawar darah otak memblokade pemasukan secara langsung kedalm system saraf pusat. Jika diasumsikan bahwa waktu transport intraneuronal sama untuk semua saraf, saraf yang pendek akan terlibat sebelum saraf yang panjang: hal ini menjelaskan keterlibatan bertahap pada saraf-saraf kepala, badan dan ekstremitas pada tetanus generalisata.

MANIFESTASI KLINIS
Tetanus generalisata, adalah bentuk penyakit yang peling sering, yang ditandai oleh peningkatan tonus otot dan spasme general. Waktu median setelah luka adalah 7 hari; 15% terjadi dalam 3 hari dan 10% setelah 14 hari. Secara khas, pasien pertama kali merasakan peningkatan tonus otot maseter (trismus, atau lockjaw). Disfagia atau kekakuan atau nyeri pada leher, bahu, dan otot punggung terlihat secara bersamaan atau segera setelahnya. Keterliatan berikutnya pada otot-otot yang lain menghasilkan perut yang kaku dan kekakuan otot ekstremitas proksimal; tangan dan kaki relatif terpisah. Kontraksi yang berlanjut pada otot-otot fasial menyebabkan meringis dan menyeringai (risus sardonicus), dan kontraksi otot punggung menghasilkan punggung seperti busur (opistotonus). Beberapa pasien mengalami spasme otot paroksismal, keras, nyeri, dan generalisata yang bisa menyebabkan sianosis dan ancaman ventilasi. Spasme ini terjadi secara berulang dan bisa secara spontan atau dicetuskan bahkan oleh stimulasi yang sangat ringan. Ancaman konstan selama spasme generalisata adalah penurunan ventilasi atau apnea atau laringospasme. Keparahan penyakit bisa ringan (kekakuan otot dan sedikit atau tidak ada spasme), sedang (trismus, disfagia, rigiditas, dan spasme), atau parah (frequent explosive paroxysms). Pasien bisa saja demam, meskipun pada banyak pasien tidak mengalami demam; secara mental tidak terganggu. Reflex tendon dalam bisa meningkat. Disfagia atau ileus bisa menghalangi pemberian makanan secara oral. Disfungsi otonom sering memberikan komplikasi pada kasus yang parah dan ditandai dengan hipertensi yang labil atau memanjang, takikardia, disritmia, hperpireksia, berkeringat banyak, vasokonstriksi perifer, dan peningkatan kadar katekolamin plasma dan urin. Periode bradikardia dan hipotensi juga bias terjadi. Henti jantung mendadak kadang terjadi, tetapi dasarnya tidak diketahui. Komplikasi lain meliputi pneumonia aspirasi, fraktur, rupture otot, tromboflebitis vena dalam, emboli pulmonal, ulkus dekubitus, dan rabdomyolisis. Tetanus neonatal sering terjadi sebagai bentuk umum dan biasanya fatal jika tidak ditangani. Ini terjadi pada anak-anak yang lahir dari ibu yang tidak memiliki imunitas yang adekuat, seringkali setelah penanganan pemotongan umbilicus yang tidak steril. Onsetnya secara umum pada 2 minggu pertama kehidupan. Tetanus local merupakan bentuk yang jarang, dengan manifestasi yang terbatas pada otot yang berada dekat luka. Prognosisnya sangat baik. Tetanus sefalik, sebuah bentuk yang jarang dari tetanus lokal, mengikuti cidera kepala atau infeksi telinga dan melibatkan satu atau lebih saraf cranial. Periode inkubasinya hanya beberapa hari dan mortalitasnya tinggi.

DIAGNOSIS
Diagnosis tetanus secara keseluruhan didasarkan pada penemuan klinis. Tetanus tidak diindikasikan apabila ada riwayat yang mengindikasikan terpenuhinya serial imunisasi dengan lengkap dan penerimaan dosis ulangan. Luka harus dikultur pada kasus yang dicurigai. Namun demikian, C. tetani bisa diisolasikan dari luka pasien tanpa tetanus dan seringkali tidak bisa dihilangkan dari luka orang yang mengalami tetanus. Hitung leukosit bisa meningkat. Pemeriksaa cairan serebrospinal memberikan hasil yang normal. Elektromyelogram bisa menunjukkan diskar kontinyu dari unit motor dan pemenedekan atau hilangnya interval sunyi yang secara normal terlihat setelah potensial aksi. Perubahan non spesifik bisa terjadi pada EKG. Kadar enzyme otot mungkin meningkat. Kadar antitoksin serum ≥0,1 IU/mL (seperti yang terukur dengan ELISA) dianggap protektif dan bisa mencegah tetanus, meskipun kasus pada pasien yang memiliki kadar antitoksin protektif juga pernah dilaporkan.

TETANUS: PENGOBATAN
Pengukuran Umum
Tujuan terapi adalah untuk menghilangkan sumber toksin, menetralisasi toksin yang tidak terikat, dan mencegah spasme otot sambil memonitor kondisi pasien dan memberikan dukungan –terutama dukungan respirasi- sampai penyembuhan. Pasien harus dimasukkan kedalam ruangan yang tenang didalam ruang rawat intensif, dimana observasi dan pengawasan kardiovaskular bisa dipertahankan secara kontinyu, tapi stimulasi bisa diminimalkan. Perlindungan terhadap jalan nafas sangat penting. Luka harus dibuka, dibersihkan secara hati-hati, dan didebridemen secara menyeluruh.

Terapi Antibiotik
Meskipun memiliki nilai yang tidak terbukti, terapi antibiotik diberikan untuk menghilangkan sel-sel vegetatif –sumber dari toksin. Penggunaan penisilin (10-12 juta unit IV, yang diberikan setiap hari selama 10 hari) telah direkomendasikan, tetapi metronidazol (500 mg setiap 6 jam atau 1 gram setiap 12 jam) dipilih oleh beberapa ahli berdasar pada aktivitas antimikroba yang sangat baik dari antibiotic ini dan ketiadaan aktivitas antagonis GABA seperti yang terlihat pada penggunaan penisilin. Obat pilihan untuk tetanus masih belum jelas: sebuah penelitian klinis tidak diacak menemukan keuntungan harapan hidup dengan metronidazol, tetapi penelitian lain gagal menemukan perbedaan antara benzhatine penisilin, benzyl penisilin, dan metronidazol. Klindamisin dan eritromisin adalah alternative untuk pengobatan pasien yang alergi terhadap penisilin. Terapi antimikroba spesifik tambahan harus diberikan untuk infeksi aktif oleh organisme lain.

Antitoksin
Diberikan untuk menetralisir toksin sirkulasi dan toksin yang tidak terikat didalam luka, antitoksin secara efektif menurunkan mortalitas; toksin yang telah terikat pada jaringan neural tidak akan terpengaruh oleh antitoksin. Tetanus immune globulin (TIG) manusia adalah sediaan pilihan dan harus diberikan dengan segera. Dosisnya adalah 3000-6000 unit IM, biasanya dalam dosis terbagi karena volumenya besar. Dosis optimalnya tidak diketahui, namun demikian, hasil dari sebuah penelitian menunjukkan bahwa dosis 500 unit sama efektifnya dengan dosis yang lebih tinggi. IVIg yang ditampung bisa menjadi alternative untuk TIG, tetapi konsentrasi antitoksin spesifik dalam formulasi ini tidak terstandarisasi. Nilai pemberian antitoksin sebelum manipulasi luka atau dengan menginjeksikannya di sebelah proksimal luka atau menginfiltrasikannya pada luka masih belum jelas. Dosis tambahan tidak diperlukan karena waktu paruh antitoksin ini lama. Antibody tidak mempenetrasi sawar darah otak. Pemberian intratekhal harus dipandang sebagai eksperimental. Equine tetanus antitoxin (TAT) tidak tersedia di AS tetapi digunakan di tempat lain. Ini lebih murah daripada antitosin manusia, tetapi waktu parunya lebih pendek dan pemberiannya sering mencetuskan reaksi hipersensitivitas dan serum sickness.

Kontrol Spasme Otot
Banyak agen, baik sendi
ri maupun kombinasi, telah digunakan untuk menangani spasme otot pada tetanus, yang sangat nyeri dan bisa mengancam ventilasi dengan menyebabkan laringospasme atau kontraksi memanjang pada otot-otot ventilasi. Pada beberapa negara berkembang, harga, ketersediaan, dan kemampuan untuk memberikan dukungan ventilasi merupakan factor yang penting untuk pemilihan terapi. Regimen terapetik yang ideal akan menghilangkan aktivitas spasmodik tanpa menyebabkan sedasi yang berlebihan dan hipoventilasi. Diazepam, sebuah benzodiazepine dan agonis GABA, digunakan secara luas. Dosisnya dititrasi, dan dosis yang besar (≥250 mg/hari) mungkin diperlukan. Lorazepam, dengan drasi kerja yang lebih lama, dan midazolam, dengan waktu paruh yang pendek, adalah pilihan yang lain. Barbiturate dan klorpromazin dianggap sebagai agen lini kedua. Paralisis terapetik dengan agen pemblokade neuromuscular non depolarisasi dan ventilasi mekanis bias digunakan untuk spasme yang tidak responsive terhadap pengobatan atau spasme yang mengancam ventilasi. Namun demikian, paralisis yang memanjang setelah penghentian terapi pernah diketahui. Agen lain termasuk propofol, yang mahal; dantrolene dan baklofen intratekhal, yang memungkinkan pemendekan durasi paralisis terapetik; suksinilkolin, yang dihubungkan dengan hiperkalemia; dan magnesium sulfat. Penelitian klinis terkontrol placebo, acak dan membuta ganda yang terbaru mengenai magnesium sulfat pada tetanus yang parah tidak menemukan adanya penurunan dalam hal kebutuhan akan ventilasi atau dalam hal tingkat mortalitas; namun demikian, penggunaan midazolam atau pipecuronium untuk pengobatan spasme otot dan verapamil untuk pengobatan instabilitas kardiovaskular bisa menurun.
Perawatan Pernafasan
Intubasi atau trakeostomi, dengan atau tanpa ventilasi mekanis, mungkin diperlukan untuk hipoventilasi yang disebabkan oleh sedasi yang berlebihan atau laringospasme atau untuk menghindari aspirasi pada pasien dengan trismus, gangguan menelan, atau disfagia. Kebutuhan untuk prosedur ini harus diantisipasi, dan harus dilakukan secara elektif dan lebih awal.

Disfungsi Otonom
Terapi optimal untuk overaktivitas simpatetik belum ditentukan. Agen-agen yang telah disarankan meliputi labetalol (agen pemblokade adrenergic α dan β yang direkomendasikan oleh beberapa ahli dalam keadaan hipertensi parah karena aktivitas adrenergic α yang tak terkendali), klonidin (obat antiadrenergik yang bekerja sentral), varapamil, dan morfin sulfat. Magnesium sulfat parenteral dan anestesi spinal atau epidural kontinyu telah digunakan tetapi mungkin lebih sulit untuk diberikan dan dimonitor. Efikasi relatif dari modalitas ini belum dipastikan. Hipotensi atau bradikardi bias memerlukan penambahan volume, penggunaan agen vasopresor atau kronotropik, atau pemasangan pacemaker. Vaksin Pasien yang sembuh dari tetanus harus diimunisasi secara aktif (lihat dibawah) karena imunitas tidak diinduksi oleh toksin dalam jumlah kecil yang diperlukan untuk menghasilkan penyakit.

Pengukuran Tambahan
Seperti semua pasien yang menerima bantuan pernafasan, pasien dengan tetanus memerlukan perhatian untuk hidrasi; nutrisi; fisioterapi; antikoagulan profilaksis; fungsi usus, kandung kemih, dan renal; pencegahan ulkus dekubitus; dan pengobatan infeksi ‘intercurrent’.

PENCEGAHAN IMUNISASI AKTIF
Semua orang dewasa yang terimunisasi parsial dan tidak terimunisasi harus menerima harus menerima vaksin, seperti mereka yang telah sembuh dari tetanus. Seri primer untuk dewasa terdiri dari tiga dosis: pertama dan kedua diberikan dengan jarak 4-8 minggu, dan dosis ketiga diberikan 6-12 bulan setelah dosis kedua. Dosis ulangan diberikan setiap 10 tahun dan bisa diberikan pada usia dekade pertengahan -35, 45 dan sebagainya. Kombinasi toksoid tetanus dan difteri, ‘adsorbed’ (Td, untuk penggunaan pada dewasa) –daripada toksoid tetanus antigen tunggal- lebih dipilih untuk orang yang berusia >7 tahun. Adsorbed vaccine lebih dilihih karena menghasilkan titer antibody yang lebih persisten daripada vaksin cairan. Dua kombinasi vaksin teanus/difteri/pertusis yang dilemahkan saat ini telah disetujui: satu (ADACEL) untuk dewasa 19-64 tahun dan yang lain (BOOSTRIX) untuk dewasa 11-18 tahun. The Advisory Committee on Immunization Practice telah merekomendasikan dosis tunggal Tdap (ADACEL) untuk dewasa 19-64 tahun yang belum menerima Tdap.

MANAGEMEN LUKA
Manajemen luka yang memadai memerlukan perhatian akan kebutuhan (1) imunisasi pasif dengan TIG dan (2) imunisasi pasif dengan vaksin (Tdap atau Td; Tabel 133-1). Dosis TIG untuk imunisasi pasif pada orang dengan luka dengan keparahan rata-rata (250 unit IM) menghasilkan kadar antibody serum protektif untuk paling tidak 4-6 minggu; dosis TAT yang memadai, produk equine-derived, adalah 3000-6000 unit. Vaksin dan antibody harus diberikan pada tempat terpisah dengan spuit terpisah.

TETANUS NEONATAL
Pengukuran preventif termasuk vaksinasi maternal, bahkan selama kehamilan; usaha untuk meningkatkan proporsi kelahiran yang dilakukan di rumah sakit; dan pemberian pelatihan kepada penolong persalinan non medis.

PROGNOSIS
Pemberian metode untuk mengawasi dan mendukung oksigenasi telah dengan jelas meningkatkan prognosis tetanus. Tingkat mortalitas serendah 10% telah dilaporkan di unit yang ditugaskan untuk mengani kasus-kasus seperti ini. Di AS pada tahun 2003, ada 20 kasus dan 2 kematian; tidak ada kasus pada pasien <18 tahun, dan 19 kasus didata sebagai imunisasi yang tidak adekuat. Outcomenya jelek pada neonates dan pada orang tua dan pada pasien dengan periode inkubasi yang pendek, interval yang pendek dari onset gejala dengan spasme pertama (periode onset). Outcomenya juga berhubungan dengan lamanya vaksinasi sebelumnya. Perjalanan tetanus memiliki rentang antara 4-6 minggu, dan pasien mungkin memerlukan dukungan ventilasi yang lama. Peningkatan tonus dan spasme minor bias berlangsung selama 2 bulan, tetapi penyembuhannya biasanya tidak sempurna.

BACAAN LEBIH LANJUT

February 5, 2010 Posted by | terjemahan | 2 Comments

Aku Belajar Dari Anakku

Sudah hampir dua tahun 4 bulan aku menyandang status sebagai seorang ibu. Pertama rasanya bingung, ini anak mau diapain yah? Masih bayi, belum bisa diajak ngobrol, belum bisa berbalas ekspresi, hehe. Saat itu justru suami yang banyak berinteraksi dengan anak, yah, s’cara usianya sepuluh tahun diatas usiaku dan tentu saja jauh lebih dewasa dan ngemong daripada aku. Saat itu aku masih menjalani pendidikan sebagai seorang koas, alhasil waktuku banyak yang tersita di tempatku ‘sekolah’ dan aku masih saja merasa canggung untuk bicara   ini itu dengan anakku, tidak seperti bapaknya yang bisa saja menjadikan apapun sebagai bahan obrolan. Sehingga aktivitasku bersama anakku ‘hanya’ menyusui, menimang-nimang, menggendong-nggendong, dan meningkat perlahan seiring dengan perkembangannya, mengajaknya tertawa, menyuapinya, bermain dengan mainan-mainan sederhana… Hmm, indah sekali!!

Lalu waktu pun berlalu, sedikit-demi sedikit dia sudah mulai bicara, berjalan, berinteraksi, menirukan berbagai aktivitas, bermain sendiri sesuai dengan tingkatan imajinasinya, masa-masa yang tidak bisa kudampingi 100% sehingga pada awal-awal kehidupannya dia lebih dekat dengan suamiku dan pengasuhnya daripada denganku, dan ini membuatku sangat sedih. Tapi kini kesedihan itu sudah berlalu, karena kini dia sangat dekat denganku, mungkin karena aku sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya dan terus-menerus berusaha menghilangkan rasa canggungku, anakkupun memiliki kemampuan berinteraksi yang semakin baik dengan orang lain, dan satu hal yang penting kurasa anakku sudah mulai tau dan merasakan bahwa akulah ibunya.

Dari anakku aku bisa banyak belajar tentang kehidupan. Misalnya suatu saat aku pernah berperilaku mudah marah dan marah dengan agak berlebihan, maka kudapati iapun meniru hal itu, hal kecil yang tidak memuaskan hatinya ia sikapi dengan kemarahan, sama persis sepertiku. Aku tidak suka melihatnya seperti itu, dan akupun berpikir bahwa orang di sekelilingkupun pasti tidak suka jika melihatku seperti itu. Lalu hal itu menyadarkanku untuk kembali bersikap baik, dalam keadaan lelah sekalipun.

Pada dasarnya aku dan suamiku sebisa mungkin berusaha untuk meminimalisir kemarahan dalam mendidik anak kami. Kami menyadari bahwa kadang ketika kami marah yang terjadi justru dia tidak mau mengalah, dia akan semakin melawan dan seolah ingin menunjukkan bahwa yang dilakukannya adalah benar, sekalipun kami bisa merasakan nyalinya sedikit menciut. Kalaupun pada akhirnya dia menghindari objek yang menjadi sumber kemarahan kami, itu bukan karena dia mengerti bahwa hal itu tidak baik untuknya, dia justru melakukannya dengan perasaan yang kecewa, mungkin sekaligus sedih karena kemarahan kami. Hal ini semakin memantapkan prinsip kami bahwa kemarahan bukan cara terbaik untuk membuat anak menuruti kita, yang tentu saja lebih tahu mana yang baik dan tidak baik untuknya, dan ‘semata-mata’ marah hanya untuk menjauhkan dia dari hal-hal yang tidak baik baginya (meskipun kalo dipikir-pikir dengan jernih, alasan kita marah sesungguhnya tak semata-mata cuma itu, tapi ketidakmampuan kita memanage emosi juga kan?).  Semakin kesini mendidiknya menjadi semakin mudah di satu sisi dan semakin sulit disisi lain. Mudahnya karena kini dia sudah semakin mengerti apabila kami mengajaknya berdialog, susahnya, karena dia sendiripun sudah mulai tumbuh menjadi pribadi yang memiliki ‘otoritas’ dan kehendak atas dirinya. Tapi kami tak berputus asa. Justru semakin terdorong untuk selalu melakukan pendekatan dialogis kepadanya dalam menjelaskan sesuatu. Memberikan pengertian mengapa ini sebaiknya begini dan itu sebaiknya begitu, bahwa semua hal ada alasannya, bukan yang penting kamu nurut, yang menurut kami merupakan suatu pembodohan. Dan hasilnya, diapun akhirnya melakukan hal yang sama kepada kami atau siapapun. Satu contoh ketika suatu saat saya akan memakaikan diapers kepadanya, diapun menjawab, “Icha nggak mau pake pampers, nanti gatel!”, jawaban sederhana yang bila dipahami kita akan bisa melihat polanya. Apa polanya? Yang pertama, dia menyatakan sikapnya atas sesuatu, dan yang kedua, dia mengemukakan alasan atas sikapnya itu. Hal seperti ini sering sekali dilakukannya dalam berbagai situasi, dan ini membuat kami lebih bersemangat untuk menjadikan anak kami sebagai anak yang ‘melek pikiran’, tidak sekedar mengikuti sesuatu tanpa tahu alasannya. Kami mengajari anak kami untuk mengetahui mengapa dia harus melakukan dan tidak melakukan sesuatu, dan bagaimana cara mengungkapkannya.

Oke, itu satu hal ya. Hal lain dimana aku belajar kepada anakku adalah masalah konsistensi. Anak-anak masih begitu mudah mengingat apa yang dikatakan kepadanya, dan pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk mengikuti perintah. Saat saya sering mengajarkan anak untuk sholat misalnya, masih dengan pendekatan-pendekatan dialogis, misalnya, Icha sholat ya, biar Allohnya sayang sama Icha, nanti kalau Alloh sayang Icha boleh minta apa aja sama Alloh, Icha juga bisa masuk surga, di surga itu bla bla bla… Kalo icha ga sholat nanti Allohnya marah, orang yang ga sholat bisa masuk neraka dan dibakar api bla bla bla…. Dampaknya, meskipun belum bisa membuat dia rutin sholat 5 waktu, hehehe, tapi sudah cukup bisa membuatnya mengingatkan kami apabila dia tahu waktu sholat telah tiba dan kami masih bermalas-malasan dan tidak bersegera melakukan sholat, dengan argumen-argumen yang kami ajarkan padanya. Kami tentu tidak mau apa yang kami ajarkan padanya melalui ucapan menjadi mentah karena berlawanan dengan perbuatan kami, maka kamipun bersegera melakukan sholat. Dan itupun berlaku untuk hal-hal yang lain.

Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyayatina qurrotaa’yuni, waj’alnaa lil muttaqina imaamaa, amin. Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami pasangan hidup dan keturunan yang menjadi penyejuk pandangan mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa”

January 26, 2010 Posted by | kids and me | Leave a comment

ngeblog

Belakangan ini saya lagi seneng ngeblog, tapi biasanya suka kekurangan ide kalo sudah di depan komputer. Yah, maklum saja, sementara ini saya baru bisa bebas berselancar di dunia maya 2x seminggu selama 6 jam dipotong waktu sholat, hehe. Niat awal ngeblog sih ada dua macam, pertama ‘mengikat’ dan membagikan ilmu medis yang saya peroleh, kedua ‘mengikat’ dan membagikan hikmah yang saya rasakan. Hmm yah, semoga saya bisa mewujudkannya yah. Sampai saat ini, ini adalah blog keempat yang sudah saya buat, tapi belum ada satupun yang serius saya garap. Lagi berusaha menyemangati diri sendiri nih.

January 19, 2010 Posted by | seperti daun jatuh tertiup angin, kecil namun penuh makna | , | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

January 19, 2010 Posted by | seperti daun jatuh tertiup angin, kecil namun penuh makna | 1 Comment