Aku Belajar Dari Anakku
Sudah hampir dua tahun 4 bulan aku menyandang status sebagai seorang ibu. Pertama rasanya bingung, ini anak mau diapain yah? Masih bayi, belum bisa diajak ngobrol, belum bisa berbalas ekspresi, hehe. Saat itu justru suami yang banyak berinteraksi dengan anak, yah, s’cara usianya sepuluh tahun diatas usiaku dan tentu saja jauh lebih dewasa dan ngemong daripada aku. Saat itu aku masih menjalani pendidikan sebagai seorang koas, alhasil waktuku banyak yang tersita di tempatku ‘sekolah’ dan aku masih saja merasa canggung untuk bicara ini itu dengan anakku, tidak seperti bapaknya yang bisa saja menjadikan apapun sebagai bahan obrolan. Sehingga aktivitasku bersama anakku ‘hanya’ menyusui, menimang-nimang, menggendong-nggendong, dan meningkat perlahan seiring dengan perkembangannya, mengajaknya tertawa, menyuapinya, bermain dengan mainan-mainan sederhana… Hmm, indah sekali!!
Lalu waktu pun berlalu, sedikit-demi sedikit dia sudah mulai bicara, berjalan, berinteraksi, menirukan berbagai aktivitas, bermain sendiri sesuai dengan tingkatan imajinasinya, masa-masa yang tidak bisa kudampingi 100% sehingga pada awal-awal kehidupannya dia lebih dekat dengan suamiku dan pengasuhnya daripada denganku, dan ini membuatku sangat sedih. Tapi kini kesedihan itu sudah berlalu, karena kini dia sangat dekat denganku, mungkin karena aku sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya dan terus-menerus berusaha menghilangkan rasa canggungku, anakkupun memiliki kemampuan berinteraksi yang semakin baik dengan orang lain, dan satu hal yang penting kurasa anakku sudah mulai tau dan merasakan bahwa akulah ibunya.
Dari anakku aku bisa banyak belajar tentang kehidupan. Misalnya suatu saat aku pernah berperilaku mudah marah dan marah dengan agak berlebihan, maka kudapati iapun meniru hal itu, hal kecil yang tidak memuaskan hatinya ia sikapi dengan kemarahan, sama persis sepertiku. Aku tidak suka melihatnya seperti itu, dan akupun berpikir bahwa orang di sekelilingkupun pasti tidak suka jika melihatku seperti itu. Lalu hal itu menyadarkanku untuk kembali bersikap baik, dalam keadaan lelah sekalipun.
Pada dasarnya aku dan suamiku sebisa mungkin berusaha untuk meminimalisir kemarahan dalam mendidik anak kami. Kami menyadari bahwa kadang ketika kami marah yang terjadi justru dia tidak mau mengalah, dia akan semakin melawan dan seolah ingin menunjukkan bahwa yang dilakukannya adalah benar, sekalipun kami bisa merasakan nyalinya sedikit menciut. Kalaupun pada akhirnya dia menghindari objek yang menjadi sumber kemarahan kami, itu bukan karena dia mengerti bahwa hal itu tidak baik untuknya, dia justru melakukannya dengan perasaan yang kecewa, mungkin sekaligus sedih karena kemarahan kami. Hal ini semakin memantapkan prinsip kami bahwa kemarahan bukan cara terbaik untuk membuat anak menuruti kita, yang tentu saja lebih tahu mana yang baik dan tidak baik untuknya, dan ‘semata-mata’ marah hanya untuk menjauhkan dia dari hal-hal yang tidak baik baginya (meskipun kalo dipikir-pikir dengan jernih, alasan kita marah sesungguhnya tak semata-mata cuma itu, tapi ketidakmampuan kita memanage emosi juga kan?). Semakin kesini mendidiknya menjadi semakin mudah di satu sisi dan semakin sulit disisi lain. Mudahnya karena kini dia sudah semakin mengerti apabila kami mengajaknya berdialog, susahnya, karena dia sendiripun sudah mulai tumbuh menjadi pribadi yang memiliki ‘otoritas’ dan kehendak atas dirinya. Tapi kami tak berputus asa. Justru semakin terdorong untuk selalu melakukan pendekatan dialogis kepadanya dalam menjelaskan sesuatu. Memberikan pengertian mengapa ini sebaiknya begini dan itu sebaiknya begitu, bahwa semua hal ada alasannya, bukan yang penting kamu nurut, yang menurut kami merupakan suatu pembodohan. Dan hasilnya, diapun akhirnya melakukan hal yang sama kepada kami atau siapapun. Satu contoh ketika suatu saat saya akan memakaikan diapers kepadanya, diapun menjawab, “Icha nggak mau pake pampers, nanti gatel!”, jawaban sederhana yang bila dipahami kita akan bisa melihat polanya. Apa polanya? Yang pertama, dia menyatakan sikapnya atas sesuatu, dan yang kedua, dia mengemukakan alasan atas sikapnya itu. Hal seperti ini sering sekali dilakukannya dalam berbagai situasi, dan ini membuat kami lebih bersemangat untuk menjadikan anak kami sebagai anak yang ‘melek pikiran’, tidak sekedar mengikuti sesuatu tanpa tahu alasannya. Kami mengajari anak kami untuk mengetahui mengapa dia harus melakukan dan tidak melakukan sesuatu, dan bagaimana cara mengungkapkannya.
Oke, itu satu hal ya. Hal lain dimana aku belajar kepada anakku adalah masalah konsistensi. Anak-anak masih begitu mudah mengingat apa yang dikatakan kepadanya, dan pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk mengikuti perintah. Saat saya sering mengajarkan anak untuk sholat misalnya, masih dengan pendekatan-pendekatan dialogis, misalnya, Icha sholat ya, biar Allohnya sayang sama Icha, nanti kalau Alloh sayang Icha boleh minta apa aja sama Alloh, Icha juga bisa masuk surga, di surga itu bla bla bla… Kalo icha ga sholat nanti Allohnya marah, orang yang ga sholat bisa masuk neraka dan dibakar api bla bla bla…. Dampaknya, meskipun belum bisa membuat dia rutin sholat 5 waktu, hehehe, tapi sudah cukup bisa membuatnya mengingatkan kami apabila dia tahu waktu sholat telah tiba dan kami masih bermalas-malasan dan tidak bersegera melakukan sholat, dengan argumen-argumen yang kami ajarkan padanya. Kami tentu tidak mau apa yang kami ajarkan padanya melalui ucapan menjadi mentah karena berlawanan dengan perbuatan kami, maka kamipun bersegera melakukan sholat. Dan itupun berlaku untuk hal-hal yang lain.
“Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyayatina qurrotaa’yuni, waj’alnaa lil muttaqina imaamaa, amin. Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami pasangan hidup dan keturunan yang menjadi penyejuk pandangan mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa”
No comments yet.